AMBON-Gelombang konflik antar warga yang kembali mencuat di sejumlah desa di Provinsi Maluku, khususnya di Kabupaten Maluku Tengah termasuk Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), mengundang keprihatinan mendalam dari Anggota DPRD Provinsi Maluku, Nita Bin Umar.
Legislator dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini menyerukan pentingnya menjaga stabilitas sosial dan keamanan di seluruh pelosok Maluku demi terciptanya kehidupan yang damai dan harmonis.
Dalam keterangannya kepada media pada Jumat (4/4/2025), Nita Bin Umar menegaskan bahwa situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) adalah tanggung jawab bersama. Sebagai wakil Rakyat dirinya meminta seluruh elemen, baik aparat keamanan, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, hingga para wakil rakyat, untuk turut berperan aktif dalam menjaga kondusivitas daerah.
“Maluku ini negeri yang damai. Hidup orang basudara itu nyata di tanah Upu Latu. Lain sayang lain, katong semua ini basudara. Konflik seperti ini tidak boleh terjadi lagi, karena tidak membawa keuntungan apa-apa. Yang ada hanyalah air mata dan kehilangan,” ujar Nita dengan nada prihatin.
Konflik horizontal yang terjadi dalam sepekan terakhir ini, lanjutnya, harus menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk tidak lengah. Nita menggaris bawahi pentingnya deteksi dini terhadap potensi konflik serta pendekatan persuasif yang dilakukan secara cepat dan tepat oleh aparat keamanan.
“Saya mengapresiasi langkah cepat dari pemerintah provinsi dan aparat keamanan, khususnya kepolisian, yang turun langsung merespons insiden-insiden ini. Namun, ke depan harus ada langkah-langkah tegas dan konsisten agar konflik tidak meluas dan menimbulkan korban lebih banyak,” imbuhnya.
Nita juga menekankan bahwa Maluku tidak boleh terus-menerus terjebak dalam pusaran konflik. Menurutnya, energi masyarakat dan pemerintah seharusnya diarahkan untuk membangun daerah, meningkatkan kesejahteraan, dan memperkuat semangat pela gandong sebagai perekat kehidupan sosial di Maluku.
“Kita ingin perdamaian. Perdamaian adalah kemuliaan sejati dalam tatanan hidup orang basudara. Tidak ada yang lebih tinggi dari kedamaian,” tegasnya.
Mantan pengurus Partai Golkar Maluku itu mengungkapkan, seluruh masyarakat Maluku untuk menjaga persatuan dan saling menghormati satu sama lain demi terciptanya suasana damai dan harmonis.
“Katong samua harus jaga Maluku ini. Katong harus bersatu dalam suasana yang damai, saling menghargai satu sama lain. Katong ini adalah basudara. Hidup pela gandong harus terus kita rawat dan jaga bersama,” ajak Nita mengakhiri pernyataannya.
Sebagai informasi, konflik antarwarga yang terjadi dalam sepekan terakhir mencakup insiden di Desa Tulehu dan Tial, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, yang menyebabkan satu warga meninggal dunia. Selain itu, bentrokan juga terjadi di Kecamatan Seram Utara antara Desa Sawai dan Rumaolat Masihulan, yang menyebabkan satu anggota kepolisian gugur dan beberapa warga lainnya luka-luka.
Sementara di Kabupaten SBT, konflik antarwarga terjadi antara Desa Kufar Kecamatan Tutuk Tolu dan Desa Kilga Watubau Kecamatan Kiandarat pada 30 Maret 2025. Perselisihan antar pemuda juga sempat terjadi di Desa Angar Kecamatan Kiandarat dan Desa Danama Kecamatan Tutuk Tolu pada 2 April 2025, namun berhasil diselesaikan melalui mediasi oleh Polres Seram Bagian Timur dengan gerak cepat tanpa menimbulkan korban jiwa.(**).

