Foto: Prosesi panas pela Mansamanuei dan Yapiopatai di Negeri Manusa
SBB,Teraslalane.Com- Dalam pelaksanaan panas pela Mansamanuei dan Yapiopatai di negeri Manusa, Penjabat Gubernur Maluku Sadali Ie, mengatakan panas pela merupakan salah satu modal sosial kultural orang Maluku yang sangat berharga.
”Karena pela adalah sebuah perserikatan atau sistem persaudaraan antara seluruh penduduk dari dua atau lebih negeri berdasarkan adat.”demikian disampaikan Sadali Ie, dalam sambutannya yang dibacakan Penjabat Bupati Achmad Jais Eli. Jumat (13/12/2024).

Pela sebagai sebuah ikatan sosial atau sistem persaudaraan serta Pela mampu melintasi batas-batas suku, sub suku, agama dari tiap-tiap negeri yang ber-pela, sebagaimana pela Mansamanuei dan Yapiopatai yang dilaksanakan hari ini.
Selain itu pula, Kata Sadali Ie, ikatan pela sebagai identitas Manusia Maluku yang khas, menyuguhkan sebuah tingkat keadaan yang tinggi dalam pertalian sejati hidup orang bersaudara. Sebagaimana ungkapan luhur katong semua.
”Potong di Kuku Rasa di Daging, Ale Rasa Beta Rasa, dan Sagu Salempeng Dibagi Dua,”ucapnya.
Katong semua orang bersaudara maupun Potong di Kuku Rasa di Daging, Ale Rasa Beta Rasa, dan Sagu Salempeng Dibagi Dua, menurutnya, telah mencerminkan sketsa orang Maluku yang tidak hanya berhubungan secara faktor geneologis semata, namun lebih dari pada itu mengekspresikan orang Maluku sebagai mahluk sosial yang sangat adatis.

”Dalam pela tercermin pemaknaan orang Maluku yang sangat menjunjung tinggi kolektifitas atau kebersamaan sebagai orang basudara,”tandasnya.
Diakhir sambutannya, disampaikan Sadali Ie, negeri-negeri yang ber-pela harus memiliki kewajiban saling tolong menolong dan bekerja sama menghadapi suatu masalah atau musibah apakah itu bencana alam, wabah penyakit, kelaparan, pada musim paceklik, perang atau mempertahankan hak dan lain lain.
Meskipun tanpa diminta maka negeri yang ber-pela wajib memberi bantuan kepada saudara pela-nya yang hendak melaksanakan hajatan atau pekerjaan demi kepentingan atau kemaslahatan umum walaupun berbeda agama, seperti pembangunan gereja, masjid, baileo, balai desa, sekolah hingga pelantikan raja.”pungkasnya (**).

