Menjaga Titipan Leluhur : Tolak Tambang Di Nusa Ina

Oleh : Akbar Suneth (Social Media Activist)

Pulau Seram adalah nadi kehidupan yang diwariskan oleh leluhur kita. Sebuah tempat yang menyimpan nilai-nilai sakral, warisan budaya, dan keanekaragaman hayati yang tak tergantikan. Leluhur kita hidup selaras dengan alam, membangun rumah dari pelepah sagu, menerangi malam dengan api damar, dan menggantungkan harapan mereka pada gunung-gunung yang menjulang di Nusa Ina. Kini, ancaman tambang hadir, mengusik ketenangan tanah leluhur dan menggantikan harmoni dengan kerusakan.

Tambang mungkin menjanjikan kesejahteraan ekonomi sesaat, tetapi dampaknya pada ekosistem, budaya, dan keberlanjutan kehidupan tidak sebanding. Kerusakan lingkungan yang ditimbulkan tambang sering kali bersifat permanen, merusak tanah, air, dan udara yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar. Sementara itu, identitas budaya yang melekat pada alam Nusa Ina juga terancam hilang. Kita harus bersuara lantang dan menolak tambang demi menjaga titipan tanah leluhur.

Tanah leluhur adalah amanah, bukan sekadar aset yang bisa diperdagangkan. Dalam menjaga warisan ini, kita menjaga kehidupan dan memastikan masa depan generasi yang akan datang. Penolakan terhadap tambang bukanlah langkah mundur, melainkan tindakan maju demi pelestarian lingkungan dan penghormatan terhadap leluhur yang telah menjaga pulau ini selama berabad-abad. (*)

PUISI TIDAK BERJUDUL

Di bawah daun sagu, tempat cerita bermula,
Dinding pelepah jadi benteng jiwa,
Api damar nyalakan malam penuh doa,
Gunung menjulang, saksi bisu semua cinta.

Pulau ibu, Seram nan agung,
Hutanmu nafas, sungaimu aliran tarung,
Leluhur titipkan tanah tak tergantikan,
Harmoni alam jadi pedoman kehidupan.

Namun kini, suara mesin menggema,
Mengusik nyanyian burung di rimba,
Membawa janji palsu dalam gemerlap kilau,
Mengganti hijau dengan debu yang banal.

Kami menolak tambang, demi titipan suci,
Bukan hanya untuk kami, tapi anak cucu nanti,
Tanah ini hidup, ia bukan mati,
Warisan leluhur tak boleh diganti.

Jangan biarkan Seram kehilangan jiwa,
Jangan biarkan hutan menangis luka,
Mari jaga bersama, tanah dan udara,
Demi leluhur, demi masa depan yang jaya.